“…dibalik angkernya Lawang Sewu…”

” kesana dulu Mas” kata sekuriti mempersilahkan saya ketika kaki sudah melangkah melewati pagar Lawang Sewu.

Saya menuju tempat yang ditunjuk, sebuah teras di area samping bangunan  dan sebuah meja diatasnya…. resepsionis.  Saya melaporkan diri dan membayar tiket masuk.

” kalau masuk ke lawang sewu, harus ditemani pemandu mas” ujar mbak resepsionis yang terlihat capek.

Pada perjalanan dinas kali ini, memang saya sudah menjadwalkan diri untuk ke Lawang Sewu. Yang denger-denger sudah mulai dibuka untuk umum. Sore hari sambil menunggu jadwal transport pulang, saya merealisasikan keinginan ini.

Saya mulai mengikuti langkah si Pemandu yang mulai menjelaskan perihal Lawang Sewu ini. Mulai dari tahun berdirinya, trus siapa aja yang pernah ninggalin, trus siapa pemilik sekarang dan ada ruang-ruang apa aja di Lawang Sewu. Wah… sudah berasa jadi Wisatawan Domestik nih… hehehe.

Sambil saya merekam jejak langkah keliling, saya mencoba merasakan suasana yang terjadi. Sore itu rekam jejak arsitektural bangunan Lawang Sewu ini tidak seberapa menarik minat saya, mungkin karena hari itu  saya sedang jenuh berarsitektur…. atau juga karena saya merasa bahwa cukuplah dengan foto-foto lawang sewu yang saya buat ini,  bisa saya nikmati setelah sampai dirumah.

Setelah puas berkeliling, saya ajak si Pemandu untuk minum teh botol Sosro dingin.

“Kenapa di beri nama Lawang Sewu Mas?” tanya saya memulai pembicaraan

“Saya juga tidak tahu siapa dulu yang pertama kali menyebut Lawang Sewu mas” jawabnya…”karena kalau di hitung dari jumlah kusennya sih, ada sekitar 400an buah… tapi kalau dari jumlah daun pintunya bisa jampai 1400an..” lanjutnya…

“Mungkin penyebutan Sewu itu kalau orang jawa kan untuk menyebut jumlah yang banyak… jadi biar gampang sebut aja sewu…” terangnya…

“Menurut yang saya denger bahwa Lawang Sewu ini tempat yang angker, disebelah mananya sih Mas” saya mulai topik pembicaraan lain…

“nggg…” agak lama si Pemandu ini berpikir…

“kenapa mas?.. takut sama penunggunya, kalau kita bicarain?” goda saya

“ngg… emang gak boleh Mas” jawab si Pemandu

“oh.. gitu ya Mas?… emang yang gak bolehin siapa toh?” saya penasaran, masak membicarakan keangkeran nya saja sampai tidak diperbolehkan…. Hmmm… Disini pasti ada kekuatan Ghaib yang luar biasa, makanya ketika keliling tadi dikit2 bulu roma saya berdiri….hehehe … “ayolah lah mas cerita, toh ini juga masih sore” saya coba memberi si Mas Pemandu ini kekuatan…

“nggg…. sebenernya kami yang tergabung dalam Paguyuban Pemandu Wisata Lawang Sewu sudah berjanji untuk tidak menceritakan keangkerannya Mas” jawab dia tertunduk…

“oalah ada Paguyubannya toh? sejak kapan Mas?” tanya saya

“sebetulnya tidak lama juga, setelah Lawang Sewu sudah mulai dikenal orang dan mulai banyak yang berkunjung… akhirnya kami pemandu-pemandu yang berjumlah 50 orang membentuk Paguyuban” si Mas mulai lancar menjelaskan…

“terbagi 2 shift, pagi dan siang. Kami mulai menganggap Lawang Sewu ini sebagai sawah tempat kerja kami. Mas dan pengunjung yang lain pasti tertarik kesini karena keangkeran Lawang Sewu toh? bukan karena sejarah bangunan ini maupun bentuk bangunan ini. Dulu, semakin malam pengunjung Lawang Sewu semakin banyak Mas. Mereka bisa datang dari mana2. Dan yang mereka tuju adalah sensasi berada di tempat yang terkenal angker ini. Dan dulu dengan senang hati kami ajak mereka berkeliling meneikmati setiap ruang yang ada di Lawang Sewu ini” lanjut si Mas…

“tapi belakangan ini, kami tidak boleh menjual keangkeran tempat ini lagi. Bukan dilarang oleh Jin, Demit, Wewe, Gendruwo, Arwah Prajurit Kumpeni atau Jepang…. Tapi dilarang oleh pemilik Bangunan ini” terangnya

“mas pasti sudah tahu perusahaan pemilik Lawang Sewu ini dari foto2 di gedung kecil depan itu toh?” tanyanya

“oalaah… PT itu toh yang nggak bolehin cerita” saya manggut2…

“iya Mas… kalau makhluk Ghaib disini sih, kebanyakan santai2 aja mereka didatengi. Dan bagi kami para Pemandu, mereka adalah temen2 kami. Karena mereka ada disini maka kami bisa ikut mencari makan disini” jawabnya…

“hmm.. bener juga yah. Toh yang dicari pengunjung adalah adrenalin yang meningkat karena latar belakang cerita2 seremnya. Dan pasti kebanyakan tidak siap jika tiba2 ada makhluk Ghaib yang tiba2 nongol hehehe” canda saya…

“nah, saya lo mas… dari mulai kecil main bola disini bahkan sampai gede ini jadi pemandu dan sering males pulang sehingga harus tidur disini… belum pernah sekalipun kelihatan yang Ghaib2 itu.. tapi kalau suara dan hembusan nafas sih sering..” cerita si Mas…

“hhhh…podo wae cak, kena hembusan nafas malah si ghaib posisinya deket kita…ckckckck” jawab saya…

“kedepannya, kami di Paguyuban ini gak tahu, akan gmana nasib kami. Mereka si pemilik Bangunan ini tidak membolehkan kami menjual keangkeran Lawang Sewu karena mereka sedang merencanakan untuk menyewakan bangunan ini menjadi perkantoran. Hmm… mereka sudah meng kapling2 tempat ini dan mulai melakukan pemasaran bangunan ini. Akan tidak lucu juga jika dalam iklannya disebut —disewakan kantor ditengah kota, keistimewaan akan banyak makhluk ghaib yang menemani ketika anda bekerja —- “ terangnya

“Dan pasti jika tempat ini sudah ramai penyewa, maka kehadiran kamipun sudah tidak diperlukan lagi. Artinya hilang sudah  mata pencaharian kami selama hampir 15 tahunan “ lanjutnya lagi…

Hmm….

Ternyata bagi sebagian orang, makhluk2 Ghaib bukanlah sesuatu yang menakutkan lagi, tapi kehilangan mata pencaharian akibat kebijakan sebagian orang2 yang duduk di manajemen lah yang lebih menakutkan…

PT yang dimaksud memang tidak pernah membangun sendiri Lawang Sewu ini, mereka mendapatkan property ini karena  sebagai perusahaan plat merah, maka mereka mendapat warisan dari privatisasi yang dilakukan pemerintah kala itu. Karena dengan adanya  fasilitas yang diberi ini diharapkan mampu digunakan untuk bekerja demi pelayanan sebaik baiknya untuk masyarakat umum.

Seyogyanya memang semangat setiap perusahaan pemerintah haruslah berakar pada jiwa dan semangat Undang-Undang Dasar yang jelas2 mengatur perihal upaya menuju kesejahteraan rakyat Indonesia. Dan tentunya dalam melaksanakan amanah institusinya tetap harus mengutamakan hajat hidup orang banyak.

Lawang Sewu menyimpan kisah dibalik keangkeran nya yang sore itu langsung bisa saya dengar. Perawatan Bangunan seperti itu memang akan luar biasa besarnya bagi Perusahaan yang selalu gembar gembor rugi ini. Mungkin dengan jalan memberikan pengelolaan ke Pemerintahan Daerah sehingga Dinas terkait misalnya Dinas Pariwisata bisa memanfaatkannya.

Saya jadi teringat salah satu talkshow di stasiun tipi, ada beberapa EO yang mengemas wisata ke tempat2 angker sebagai komoditas yang ternyata laku dijual. Saya juga sering melihat bahwa banyak orang yang berbondong2 masuk ke Rumah2 Hantu di mall2 atau di taman hiburan. Atau yang ringan2, banyak orang juga yang rela antri dan bayar untuk melihat film2 horor…. Kadang sambil bercanda saya mengomentari keadaan itu dengan kata2 “bayar mahal2 kok untuk ditakut2i”… hehehe

Andai saja  ada kreatifitas yang tidak biasa dari image keluarga besar perusahaan plat merah yang biasanya bertindak biasa pula…

Kebijakan memanfaatkan properti untuk disewa2kan memang  lebih mudah mendatangkan rupiah dibanding dengan repot2 membuat kemasan sebuah wisata angker yang kebetulan tempatnya sudah dikenal orang..

Kalau wisata kebun binatang, manajemen masih harus memelihara hewan didalamnya dengan memberi makan, tapi kalau wisata angker, sebenarnya tidak usah repot2 memberi makan toh….

Namun saya yakin bahwa didalam perusahaan plat merah itu banyak sekali orang pintar yang baik dan peka lingkungan, apalagi menterinya sekarang sedang giat2nya menyentuh masyarakat dengan tindakan2 langsungnya… Sehingga mampu menelurkan kebijakan yang benar-benar bijaksana bagi Lawang Sewu…

“yah… kalau bagi kami Mas, keadaan seperti ini telah cukup memberi kami makan setiap hari. Jika ternyata Lawang Sewu ini akhirnya dirubah fungsi oleh pemilik dan akhirnya membuat kami kehilangan mata pencaharian…. maka yang bisa kami lakukan adalah harus  tetap bertahan, melihat peluang lain ditempat lain untuk menyambung hidup”  Si mas Pemandu itu mengakhiri sessi menemani saya menikmati kisah dibalik keangkeran Lawang Sewu.

Advertisements

“…hati hati dengan keinginan..”

Dulu waktu masih sekolah, saya pernah punya keinginan, yaitu pergi kemana mana tanpa mengeluarkan biaya sendiri..

Waktu itu, dalam pikiran saya jika dikabulkan keinginan itu, pastilah rasanya akan sangat menyenangkan. Bisa melihat lihat suasana baru, lingkungan baru dan berkenalan dengan orang orang baru. Dan semua itu tanpa mengeluarkan biaya sendiri.

(=-?⌣__⌣ )hmmm…….

Beberapa waktu setelahnya, ada beberapa kali saya pergi keluar daerah. Kebanyakan karena alasan pekerjaan. Kebetulan disiplin ilmu saya memang memungkinkan untuk hal itu. Dan memang benar apa yg saya rasakan waktu bepergian mirip dengan yang saya harapkan dulu.

Tapi…

Beberapa minggu ini, mobilitas saya lumayan padat. Minggu lalu saya harus ke Balikpapan karena urusan kerjaan, parahnya berangkat pagi langsung balik malamnya. Besoknya saya ke Malang, berangkat pagi lalu pulang malam. 2 hari setelahnya saya harus ke mojokerto untuk nemenin temen temen yg presentasi pekerjaan juga, kemudian esoknya ke Ibukota, dengan ritual yang sama berangkat pagi2 sekali dan pulang besoknya malam sekali… Hoaaah….
Paginya langsung disibukkan dengan urusan kerjaan karena sudah ada rencana 2 hari setelahnya, saya harus ke Balikpapan lagi untuk melanjutkan pekerjaan yang kapan hari.
Setelah 2 malam dikota ini, akhirnya saya sudah berada di lounge lagi malam ini untuk balik…..

Hhmmm…

Dan baru saya sadari, bahwa apa yg dulu saya inginkan dan yakin bakal menyenangkan, sekarang berasa sangat melelahkan. Padahal masih tetap dengan tanpa biaya sendiri..

Ini karena saya sudah berumur, atau karena memang ini adalah minggu minggu yang lebay beraktifitas.

Atau memang sudah bukan waktunya lagi berpetualang?…
Atau karena saya sekarang sedang dikelilingi oleh wajah wajah lelah di ruang tunggu bandara ini?..

Sekarang….. Saya sangat kangen pada sofa ibu dirumah, tempat yang senantiasa sukses merangkul saya ketika berasa seperti ini… si ibuk pasti akan bertanya “mau dibikinkan kopi nak?”… dan saya pasti akan mengiyakan. Dan biasanya, belum tuntas si kopi dihidangkan di meja samping sofa ini, buaian kipas antik dilangit langit ruangan pasti telah sukses membius saya….zzzzzz…

*sepinggan, waiting lounge
Moga gak delay


Penyebar Islam pertama di Jawa ‘ternyata’ Wanita

Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah“. (HR. Muslim)

fatimah binti maimun


“…give me a kiss before you tell me goodbye…”


….cause my heart will always be, yours honestly….

courtezy by youtube


…begitu nyanyian rinduku, terserah apa katamu……

 

courtezy by youtube


“..belum sempat ku membagi…”

 

courtesy by youtube


….mari jujur pada kesehatan diri….

Masih terngiang pembicaraan  dengan mekanik bengkel langganan saya,

Si Mekanik ini sedang membenahi mobil Ayah saya, dan di sela2  istirahat sambil makan sate langganan yang biasa lewat depan rumah……

Saya         : Gimana kabarmu Mas, lama gak ketemu yah..

Mekanik : eh iya Pak, Alhamdulillah baik..

Saya         : Masih tinggal di Sepanjang??  (salah satu daerah dekat kota saya)

Mekanik : sudah nggak lagi Pak..

Saya         : berarti balik ke kampung istri??.. (saya pernah main ke kampung istrinya, ketika mereka mengabarkan sudah memiliki bayi laki2 yang lucu, kampungnya berjarak 60km dari bengkel tempat kerjanya)

Mekanik : iya pak..

Saya        : si bayi sehat2 aja? ibunya?… wah kumpul lagi sama mertua yah..

Mekanik : Alhamdulillah si Bayi sehat pak sekarang dirawat mertua, karena ibunya gak ada…

Saya        : Syukurlah kalau sehat2 semua, emang ibunya kerja lagi tah?.. 

Mekanik : ibunya gak kerja pak, dia sudah gak ada…. meninggal..

Degg….

Kemudian meluncurlah cerita dari bibirnya, bagaimana si Istri meninggal.

Si Mekanik ini masih lajang ketika mengenal saya, bahkan sering saya olok2 perihal sudah waktunya dia berumah tangga. Kerjaan sudah ada tinggal tunggu apa lagi.

Kemudian saya mendengar si Mekanik ini sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis, dan tidak lama sekitar 3 bulan kemudian mereka menikah.

Dan alhamdulillah sebulan kemudian si Istri sudah ada gejala2 hamil, sampai lahirlah Bayi laki-laki lucu yang melengkapi kebahagiaan mereka….

Saya hadir melihat kehidupan mereka bertiga di minggu-minggu awal kehadiran si Bayi, wah keluarga kecil bahagia. Setelah waktu itu, entah  beberapa kali saya panggil si Mekanik kerumah dan memang jarang kami ngobrol disela2nya.

Dalam ceritanya, sudah mulai sebelum menikah si Istri kerap mendapat gangguan kesehatan, utamanya di daerah perut. Namun sakit sporadis itu seringkali dianggap biasa dan diselesaikan dengan dokter umum yang ada di kecamatan terdekat tempat tinggal mereka.

Dan jika si istri diminta oleh si Mekanik untuk cek di Rumah Sakit kota,  si Istri kerap menolak dengan beralasan sakitnya sudah baikan setelah di bawa ke dokter kecamatan.

Sampai akhirnya, setelah beberapa kali mengeluhkan sakit yang sejenis, dan sudah diobati masih juga tidak tuntas sembuhnya, Si Dokter kecamatan yang menangani jadi curiga, dan memberi rujukan ke Rumah Sakit di Kota. Hmm, dari hasil rontgen ditemukan batukarang di Ginjalnya, yang besar sudah mendesak dinding Ginjal itu sendiri. Saya gak bisa membayangkan betapa sakitnya ketika si Karang menggesek atau bahkan merobek dinding Ginjal, dan dalam keadaan seperti itu si Istri begitu keukeuh mensugesti dirinya akan  baik2 saja.

Setelah dirawat di ICU selama 2 hari, Dokter2 di Rumah Sakit Kota pun angkat tangan, karena di operasi pun sudah terlambat……  dan atas desakan keluarga pula akhirnya si Istri di bawa pulang dalam keadaan koma. Dan esok paginya si Istri meninggal dunia di usia ke 25 tahun….

Dalam helaan nafas yang panjang, si Mekanik sempet menyesalkan ketidak terbukaan si Istri terhadap sakit yang selama ini dideritanya.

Kemudian dia berpikir, mungkin saja si Istri melakukan itu semua agar orang2 yang menyayanginya jadi tidak terbebani??.

Tapi jika menyangkut masalah kesehatan, hal demikian bisa sangat fatal ternyata….

Andai saja si Istri mau jujur terhadap apa yang dideritanya, dan mau menerima saran orang yang lebih tahu terhadap masalah kesehatannya….

Andai saja si Istri tidak menguat-nguatkan keadaan badannya untuk kata2 basi yang bernama “tidak mau merepotkan”….

Dan di akhir ceritanya, si Mekanik merujuk bahwa ini semua adalah Takdir yang Maha Kuasa. Dan kedepannya ada Bayi hasil buah cinta kasih keduanya yang harus dijaga sebagai wujud tanggung jawab amanah….

 

Saya hampir tidak bisa berkata apa2 lagi…

Begitu cepat keadaan bisa jadi sangat terlambat…

 

Apa yang dilakukan  si Istri Mekanik kadang  juga sering saya lakukan untuk menunjukkan bahwa saya kuat dan baik2 saja…. Astagfirullah…ternyata bisa jadi saya salah…

Seminggu setelahnya…. saya tidak jemu2 menceritahkan kisah Istri Si Mekanik ini  kepada siapa saja yang saya temui. Teman, keluarga, rekan kerja…  Saya hanya pengen menularkan pentingnya jujur pada kesehatan diri sendiri… Jika menyangkut masalah kesehatan maka jangan ada keraguan untuk segera mencari kesembuhan pada orang2 yang kita anggap lebih Ahli… Berhenti bersikap seperti manusia super yang  masih kuat ketika didera sakit….

 

(ketika klik post dalam blog ini, secara tidak sadar saya matikan rokok yang masih panjang menyala….hmmmm)

 


” i’m not a good singer but i just like it ” “

banyak hal yang membuat saya “tersentuh”  dalam hidup ini…

video ini salah satunya…

entah karena cerita dibalik pelaku video ini, atau suara tinggi penyanyinya yang membuat saya merinding, atau karena wanita2 cantik yang ada di video itu juga merasakan sentuhan yang sama , atau karena saya lagi berasa melow aja malam ini…

hmmm…..  yang pasti video ini telah sukses membuat basah mata saya….

well done Choi, Sung-bong

 

 


“…Kala kita beda dan diterima….”

Ketika mau beranjak dari area display Arca2 batu di belakang Musium Trowulan, saya di samperin sama si Arkeolog yang tadi mendampingi kami.

 

” hei, taklihat kamu suka yang unik2 ya?.. ” tanya dia, setelah tadi saya sempat tanya2 perihal tengkorak di alas arca tantrayana..

saya cuma tersenyum…

“tau nggak, ada yang unik lagi di musium ini” katanya memancing rasa penasaran saya…

“apaan mas?..” tergoda saya bertanya…

” kamu tahu Kala” tanyanya..

“tau mas, sosok yang digambarkan bermata besar bulat, bertaring dengan rambut gimbalnya… sosok menakutkan” jawab saya.. (pertanyaan gampang…hehe)

“bener, dan kehadiran Kala atas pintu rumah dipercaya pula menolak bala” tambahnya…

“namun di museum ini ada sosok Kala yang kami temukan tidak dengan apa yang kamu ilustrasikan tadi” tambahnya…

“tuh kamu liat sendiri” tunjuknya pada pecahan batu2 yang bentuknya seperti ornamen2 biasa…

” Bentuk Kala yang tertampil diatas sudah mengalami distilisir menjadi sosok yang berbeda namun masih terasa kesamaannya setelah kita lihat lebih detail, ada bentuk Kala yang ditutup kain dan bentuk Kala yang bermata satu” ceritanya….. ” bentukan ini kita temukan ketika Islam mulai masuk ke Majapahit” tambahnya

“Islam memang melarang bentukan2 yang vulgar menyerupai sosok manusia atau hewan, sehingga pelaku2 konstruksi mencoba melakukan modifikasi desain yang unik…. dan bisa diterima oleh yang lama dan yang baru” tambahnya sambil berlalu meninggalkanku yang langsung asyik menikmati “kala beda” ini…

 

Hmm….. saya respek pada pencetus ide bentukan “kala beda” ini, begitu tepat sentuhan yang mereka lakukan jaman dulu. Merepresentasikan memori bentuk lama menjadi aman untuk tuntutan parameter sebuah bentuk baru.